MARET
Halo! Assalamu'alaikum!
Terakhir menulis adalah November 2021. Lama banget deh. Rajin nulis apaan, punya waktu untuk diri sendiri aja alhamdulillah bersyukur punya. Tapi insha allah, mau janji sama diri sendiri untuk agak sering nulis di blog. Paling nggak seminggu dua kali? Tiga kali?
Sekali aja kali ya, jangan muluk-muluk.
Jadi, 2022 ini adalah aku banyak berhadapan dengan hal yang baru. Salah satunya adalah kena kopit. Iya, jadi, selamat buat aku, akhirnya lulus sarjana Covid 2022! Omicron deh kayaknya kenanya. Gejala awalnya cuma hidung buntu dan badan enggak enak aja, udah gitu aja. Tapi kok semakin lama dibiarkan, semakin tidak enak. Sebenernya ada nyeri telan, tapi udah beberapa hari yang sebelumnya. Ternyata, setelah swab antigen, eng ing eng! Positif COVID-19! Yay, isoman lah akhirnya 10 hari. Lumayaaaan, bisa buat istirahat.
Selain Covid ada hal lain yang baru, bukan, bukan kerjaan (pengennya sih gitu tapi belum). Yaitu adalah,
mas pacar (/?)
Hehe. Iya, jadi sekarang aku enggak sendirian gitu. Ada mas pacarnya. Bukan, bukan pacar orang sih. Mantan suami orang kayaknya yang lebih pantes. Mas sendiri sebenernya complicated person ya. Jadi, ada baiknya tema tulisan kita hari ini adalah membahas soal hati karena udah lama nggak bahas soal hati.
Adalah yang pertama, mas sama aku ini udah deket sebenerya as a friend, setahun. Ada rasa nggak dulu? Ada. Tapi habis itu hilang rasanya karena, get a grip! Ini Mas yang kita lagi omongin, laki-laki yang manis sama semua orang, pinter terhadap pekerjaannya, dan satu lagi, ada orang yang lagi dekat sama dia, yang sayangnya adalah orang yang aku kenal baik, kenal dekat, and proudly I can say that she's is my mentor.
Mas ini udah terkenal dia deket sama mentorku ini, udahlah jalan bareng kemana mana, and I really loved them being together. I even pushed him to wait for her, because different religion, so at the end they are being end up together.
Tapi nggak jadi, nggak bisa, karena mentorku enggak bisa. Bahkan ada statement kalo lagi suka sama cewek lain bilang ya. I know her feeling, so she can push aside her feeling and she can see him as just a friend.
Tapi bisa kah? She was there in the lowest point of his life, at his everything, and then he choose me?
Should I say that I think I seen this film before, and I didn't like the ending.
First month was sweet, second month was love, and third now is... I don't know, he's feel too far for me? But he's right there, in front of me. But he's feels too far.
Mungkin lagi capek kali ya, jadi agak kayak lack of communication.
Sadly is, we are in same company, I see him everyday, he see me everyday. But sometimes I wonder, Am I the only one have this feeling everytime we met? Or he just excellence of lip service?
Kalau aku mengutarakan ini semua kira-kira salah enggak sih? Aku terlalu demanding enggak?
Aku jawab, nggak salah because that's what I felt, and I told him that I'm gonna said every feeling I have to you. Dan nggak, nggak mau jadi orang kayak mama, yang nggak bisa nolak. I'm gonna say no if I'm not comfortable to do that. .
Memang sih, orang bilang cinta itu give and give not give and take. Jadi lagi belajar begitu, agak nggak peduli dikit karena Mas juga bukan orang yang selalu peduli, always there.
Because in the end, if he is like that, why don't he said to her that he's falling in love with me and not trying to please other people?
The answer is, it's him. It's just him. And if we didn't work in the end, should I surprise by it? No.
Komentar
Posting Komentar